Cari Blog Ini

Rabu, 10 April 2013

BUDIDAYA JAMUR TIRAM SEBAGAI SUMBER MAKANAN ALTERNATIF YANG SETARA DENGAN DAGING DAN IKAN YANG BERGIZI TINGGI

A.      Latar Belakang Masalah
        Permintaan akan jamur belakangan ini semakin meningkat seiring dengan terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat yang memperhatikan variasi jenis dan mutu makanan. Jamur yang menjadi salah satu pilihan, persediaannya belumlah mencukupi. Keterbatasan keterampilan dalam membudidayakan jamur juga menjadi salah satu penyebab rendahnya persediaan jamur di pasar. Komposisi dan kandungan jamur tiram per 100 gram adalah : protein 10,5 %-30,4%, karbohidrat 56,60%, lemak 1,7%-2,2% dan serat 7,5%-8,7%. Sayuran jenis jamur diproduksi tanpa pupuk dan pestisida, tanaman ini tumbuh murni dengan memanfaatkan unsur hara pada kayu, dengan demikian jamur tiram diproduksi dengan bahan organik.
Jamur Tiram putih merupakan bahan sayuran yang mulai banyak diminati di Indonesia. Jamur ini memiliki aroma yang khas karena mengandung muskorin, dan penting bagi kesehatan karena mampu menyediakan kebutuhan gizi manusia tanpa harus menaikkan tekanan darahnya. Di alam bebas jamur Tiram putih tumbuh liar secara saprofit pada kayu lapuk atau kayu yang sedang mengalami proses pelapukan. Jamur ini dapat pula dibudidayakan dengan menggunakan tempat tumbuh atau media tumbuh yang sesuai untuk persyaratan perkembangbiakannya. Media tumbuh yang dapat dipergunakan sebagai alternatif budidaya jamur ini dapat berasal dari limbah pertanian dan industri. Limbah tersebut dalam jumlah besar apabila tidak diolah dan dimanfaatkan dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan, serta dalam waktu tertentu akan membahayakan.
B.      Perumusan Masalah
1.      Potensi dan pemanfaatan jamur tiram sebagai makanan bergizi pengganti daging dan ikan.
2.      Pemanfaatan limbah pertanian dan industri sebagai alternatif media pertumbuhan jamur tiram.

C.      Tujuan Program
-       Meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah pertanian dan industri serta mengurangi pembebanan lingkungan terhadap limbah industri.
-       Membuat alternatif baru makana bergizi pengganti daging dan ikan.

D.      Luaran Yang Diharapkan
Keluaran yang diharapkan adalah dapat membuat alternatif makanan bergizi baru sebagai pengganti daging dan ikan dengan harga yang lebih murah dan lebih mudah pemprosesannya.

E.      Kegunaan Program
-        Menghasilkan komposit limbah serbuk kayu dan plastik dengan sifat yang terbaik, yaitu kuat dan tidak mudah pecah
-        Memotivasi mahasiswa dan pelajar untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menambah jenis makanan bergizi baru dan memanfaatkan limbah pertanian dan industri.

F.       Tinjauan Pustaka
1.    Manfaat budidaya jamur tiram sebagai pengahasilan sampingan.
Jamur tiram barangkali satu dari sedikit jenis sayuran berharga relatif mahal. Tiap kilogram jamur tiram putih dijual Rp 12.000. Akan tetapi, bukan itu saja yang menarik minat untuk membudidayakan jamur. Selain harga dan biaya produksi murah, pasar jamur tiram juga terbuka. Sebagai salah satu pilihan usaha skala kecil dan menengah, usaha jamur tiram (Pleurotus ostreatus) bisa menjadi tambahan penghasilan. Bila dikelola serius, tidak mustahil bisa berkembang menjadi usaha yang besar dan mandiri. Apalagi di tengah krisis keuangan global, di mana banyak pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja. Alternatif pendapatan pun harus segera dicari. Dengan menjalankan usaha sampingan jamur tiram, sekadar mendapat pendapatan Rp 3 juta-Rp 5 juta per bulan tidaklah terlalu sulit (kompas, 14 maret 2009). Selain itu, keunggulan lainnya, cara budidaya mudah dan dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas. Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan. Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget. Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan. Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya (anonim, 2009).
G.     Metode Pelaksanaan Program
1.      Alat dan bahan
a.       Alat
-          Semprotan air 3 buah
-          Sendok semen 4 buah
-          Cangkul 1 buah
-          Ember 2 buah
-          Gunting 2 buah
-          Oven ukuran 2 x 1,5 x 0,5 m 1 buah
-          Rak semai 20 buah
-          Karung goni 100 buah
-          Gergaji 2 buah
-          Palu 4 buah
-          Sabit 3 buah
b.      bahan
-          plastik polibag 2000 kantong
-          bambu 20 batang
-          atap alang-alang 1 x 0,5 m 32 buah
-          serbuk kayu 6 karung
-          kapur dolomit/kapur bangunan 2 karung
-          dedak 20 kg
-          Bubuk gypsum 2 kg
-          semen 3 sak
-          batu bata 200 bata
-          pasir 1 m3

2.      Langkah kerja
a.       Serbuk kayu gergaji dan kapur dolomit atau kapur bangunan diaduk rata. Tambahkan air secukupnya. Selama sehari semalam, campuran serbuk kayu gergaji dan kapur dikompos.
b.      Selanjutnya, tambahkan dedak dan gypsum, lalu diaduk rata dan ditambah air lagi secukupnya. Masukkan adukan itu dalam kantong plastik yang telah disediakan, dengan kepadatan tertentu.
c.       Setelah itu, masukkan cincin dari bambu dengan diameter 4 sentimeter pada bagian atas adonan, lalu plastik diikat.
d.      Polibag yang telah berisi adonan itu disusun dalam drum, lalu dikukus selama 8 jam. Selanjutnya, didinginkan sehari semalam. Bila sudah dingin, masukkan bibit jamur di ruang inokulasi secara serasi, dengan cara membuat lubang sedalam 6 sentimeter pada adonan itu.
e.       Perhatikan pula suhu ruangan, harus 28-30 derajat celsius, dengan kelembaban 92-96 persen. Setelah 15 hari di ruang inkubasi, pindahkan media jamur ke ruang budidaya. Tunggu 30-40 hari agar meselium jamur tumbuh putih merata.
f.       Lalu buka penutup media, dan jamur bisa dipanen 3-4 hari kemudian. Tanpa menebar benih kembali, pemanenan jamur pada media yang sama bisa dilakukan hingga lima kali.
H.      Jadwal Kegiatan Program
No.
Rencana Kegiatan
Bulan ke-1
Bulan ke-2
Bulan ke-3
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pembuatan Proposal












2
Seminar Rancangan












3
Pembuatan media dan tempat












4
Penyemaian bibit












5
Panen












6
Evaluasi












7
Perbaikan Laporan












8
Penggandaan Laporan












9
Pengiriman Hasil Penelitian













I. Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Budidaya Jamur Tiram. Error! Hyperlink reference not valid.-tiram/.
Anonim. 2009. Keunggulan Dan Budidaya Jamur Tiram. http:// arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&id=158949.
Istuti Wigati dan siti Nurbana. 2006. Budidaya Jamur Tiram. Jawa Timur : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Sumarsih Sri. Budidaya Jamur Tiram Dengan Berbagai Media. Jogjakarta : Agroteknologi UPN.
Sumiati Eti Dr. 2006. Cara Praktis Budidaya Jamur Tiram. Jawa Barat : Balai Penelitian Sayuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar