Cari Blog Ini

Kamis, 26 Mei 2011

Media Pembelajaran


1.    Arti Media pembelajaran
Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar. Menurut AECT (Association for Educational Communication and Technology, 1977) yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2002: 3), memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi.  Azhar Arsyad (2002: 4) dalam bukunya mengatakan media adalah alat yang mengantarkan atau menyampaikan pesan-pesan pengajaran. Sesuatu dapat dikatakan sebagai media pembelajaran digunakan untuk  menyampaikan pesan  dengan tujuan-tujuan pendidikan (Latuheru, 1988: 13). Pendapat Santoso S. Hamidjojo yang dikutip oleh Latuheru (1988: 11), media adalah semua bentuk perantara yang digunakan manusia untuk menyebarkan ide, sehingga ide atau pendapat atau gagasan yang disampaikan itu bisa sampai pada penerima.
Sementara itu Oemar Hamalik (1982) mendefinisikan media sebagai teknik yang digunakan dalam mengefektifkan komunikasi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan perantara atau alat untuk memudahkan proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Menurut pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau metode dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara pendidik dan peserta didik untuk lebih mengefektifkan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah, selain itu media pembelajaran juga berfungsi untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
2.    Fungsi Media pembelajaran (Andrei Luca, 2010)
a.       Membantu memudahkan belajar bagi peserta didik dan juga memudahkan pengajaran bagi pendidik.
b.      Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi kongkret).
c.       Menarik perhatian peserta didik lebih besar (proses pembelajaran tidak membosankan).
d.      Semua indera peserta didik dapat diaktifkan saat belajar.
e.       Lebih menarik perhatian dan minat peserta didik
f.       Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.
Dengan adanya konsep yang semakin mantap, media dalam belajar mengajar tidak hanya sebagai alat peraga namun sebagai pembawa informasi yang dibutuhkan peserta didik. Dengan demikian pendidik berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belajar mengajar.
Dilihat dari segi pendidik, media mempunyai fungsi dan kemampuan sangat berarti. Media merupakan integral dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan pengembangan, maupun pemanfaatan dalam proses pembelajaran.
3.    Tipe media pembelajaran
a.       Media pembelajaran dua dimensi
Merupakan media penjelasan yang dapat dilihat, didengar, ataupun didengar dan dilihat. Media pembelajaran dua dimensi dapat dibagi menjadi beberapa jenis (Ketut Juliantara, 2009)
1)      Media grafik.
Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan.
2)      Media audio
Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan ke dalam simbul-simbul auditif, yang melibatkan rangsangan indera pendengaran.
3)      Media proyeksi diam
Beberapa jenis media yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan penampilan visual saja, atau disertai rekaman audio.
4)      Media simulasi dan permainan
Ciri atau karakteristik dari media ini adalah: melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi antar peserta didik, dan dapat memberikan umpan balik langsung.
b.        Media pembelajaran Tiga Dimensi
Media tiga dimensi yang sering digunakan dalam pengajaran adalah model dan boneka. Model adalah tiruan dimensional  dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang, atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas untuk dipelajari siswa dalam wujud aslinya.
Model dapat dikelompokkan dalam masing-masing kategori. Model tersebut mempunyai ukuran yang sama persis dengan ukuran aslinya atau mungkin dengan skala yang lebih besar atau lebih kecil dari objek yang sesungguhnya (Oemar Hamalik, 1994: 134). Berikut ini jenis-jenis model yang dikemukakan Nana Sudjana (1990) :
1)        Model Kerja (Working Model)
Model kerja adalah tiruan dari suatu objek yang memperhatikan bagian luar obyek asli, dan mempunyai beberapa bagian dari benda sesungguhnya.
2)        Model Penampang (cross section model)
Model penampang memperlihatkan bagaimana sebuah obyek itu tampak, apabila bagian permukaannya diangkat untuk mengetahui susunan bagian dalamnya. Kadang-kadang model ini dinamakan model X-Ray atau cutway model yaitu model penampang yang dipotong. Model penampang dibuat menggunakan benda kerja nyata yang dipotong, dibelah untuk mengetahui bagian dalam suatu komponen dari benda tersebut. Fungsi lain juga agar lebih cepat menguasai dan memahami cara kerja komponen tersebut seperti engine, motor listrik mesin uap dan lain-lain. Untuk mempermudah membedakan bagian-bagian dalam komponen kendaraan model penampang biasanya menggunakan pewarnaan atau dicat, juga untuk memperindah suatu model penampang.
3)        Model Padat (Solid Model)
Suatu model padat biasanya memperlihatkan bagian permukaan luar dari objek dan sering membuang bagian-bagian yang membingungkan gagasan-gagasan utamanya dari bentuk, warna, dan susunannya.
Oemar Hamalik (1994) dalam bukunya mengemukakan jenis-jenis model sebagai berikut :
1)      Solid model, model yang memperlihatkan bagian luarnya saja.
2)      Working model, merupakan model yang menedemostrasikan fungsi ataupun cara kerja dari benda tesebut.
3)      Cross section model, merupakan model yang dapat menunjukan bagian dalam benda kerja.
Amir Hamzah (1985) mengkarakterkan model sebagai berikut :
1)      Model merupakan benda tiga dimensi
Ukuran tiga dimensi merupakan salah satu keunggulan model, hal ini sangat membantu dalam mewujudkan realitas yang tidak hanya bisa dilihat namun juga dapat dipegang.
2)      Model dapat berupa benda yang lebih kecil ataupun lebih besar dai asllinya supaya mudah dipelajari
Memperbesar ataupun memperkecil model dari ukuran benda sebenarnya bertujuan supaya mudah dipelajari dan mudah dalam distribusinya.
3)      Model bisa memperlihatkan bagian dalam dari sebuah benda yang dalam keadaan sebenarnya selalu tertutup
Model dapat dibuat sedemikian rupa sehingga bagian dalam dari obyek dapat terlihat untuk menjelaskan bagian dalam model tersebut bekerja. Model seperti ini biasa disebut sebagai model terbuka ataupun model irisan.
4)      Dalam membuat sebuah model, baigan-bagian tertentu dapat ditinggalkan, supaya orang dapat mempelajari bagian yang penting saja
Model seperti ini biasanya digunakan untuk menjelaskan fungsi bagian tertentu model, sehingga dimungkinkan untuk menghilangkan bagian yang rumit-rumit guna mempermudah dalam mempelajarinya.
5)      Model yang baik merupakan model yang dapat dibongkar dan dipasang kembali
Nilai sebuah model yang dapat dibongkar dan dipasang tidak saja terletak pada tiga dimensinya, akan tetapi juga pada kenyataan, bahwa dapat diperiksa sampai ke bagian dalam dengan cara melepaskan per bagian.
6)      Warna digunakan untuk memperjelas bagian-bagian yang penting.
Warna pada model berfungsi sebagai penanda bagian yang penting dari bagian yang dipelajari. Warna juga digunakan untuk memperjelas pengertian bagian yang ditunjukkan.
Dalam penggunaan model sebagai media pembelajaran perlu diperhatikan beberapa hal agar menjadi lebih efektif yaitu (Oemar Hamalik, 1994) :
1)        Model harus digunakan dengan kondisi semenarik mungkin.
2)        Setiap orang di kelas harus dapat melihat model dengan jelas.
3)        Model harus digunakan dalam hubungan dengan materi pelajaran lainnya.
4)  Siswa perlu diberikan kesempatan semaksimal mungkin untuk menangani, mencoba, mengamati model, bertanya atau membuat generalisasi.
5)     Upayakan obyek, sampel, atau model lain yang ada kaitannya dengan topik yang dibicarakan dialihkan dari perhatian siswa.
6)        Bila perlu siswa dilatih untuk membuat model atau menjabarkan suatu obyek.
Media pembelajaran yang baik adalah dengan benda kerja sesungguhnya, sehingga dapat dengan mudah dipahami sebagai bahan pembelajaran. Model alat peraga yang akan dibuat untuk menjelaskan bagian-bagian limited-slip differential tipe torsen untuk penggerak roda depan menggunakan media pembelajaran dengan model penampang (cutway model), karena model ini memperlihatkan  bagaimana sebuah obyek itu tampak. Pembuatan media pembelajaran limited-slip differential tipe torsen untuk penggerak roda depan ini terdiri dari beberapa komponen utama yaitu limited-slip differential tipe torsen dan CV joint membantu penggerak roda depan saat Berbelok. Fungsi dari media pembelajaran ini adalah untuk menunjukkan komponen-komponen dan sistem kerja limited-slip differential tipe torsen sebagai penggerak roda depan

Jumat, 20 Mei 2011

SIKAP KERJA

a.    Pengertian
Kenneth (1992 : 129) menjelaskan bahwa sikap kerja merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaannya yang mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaannya serta harapan-harapannya terhadap pengalaman masa depan.
Sikap kerja sebagai tindakan yang akan diambil karyawan dan kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan. Sikap kerja dapat dijadikan indikator dalam sebuah pekerjaan dapat berjalan lancar atau tidak, masalah antar karyawan ataupun atasan dapat mengakibatkan terabaikannya sikap kerja. (Sada, 2008 http://klinis.wordpress.com, diambil pada 06-01-2011 pukul 21.15)
Sikap kerja sebagai kecenderungan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya. Indikator karyawan yang merasa puas pada pekerjaannya akan bekerja keras, jujur, tidak malas dan ikut memajukan perusahaan. Sebaliknya karyawan yang tidak puas pada pekerjaannya akan bekerja seenaknya, mau bekerja kalau ada pengawasan, tidak jujur, yang akhirnya dapat merugikan perusahaan. (Aniek, 2008 http://klinis.wordpress.com, diambil pada 06-01-2011 pukul 21.15)
Dapat disimpulkan bahwa sikap kerja merupakan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas, suka atau tidak suka terhadap pekerjaannya dengan kecenderungan respon positif atau negatif untuk memperoleh hal yang diinginkannya dalam pekerjaannya. Sikap kerja ini menunjukan respon-respon setiap orang berupa emosional terhadap pekerjaan yang sedang dikerjakan, tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dibebankan, dan rasa percaya diri ketika bekerja. Tingkah laku tersebut yang mencerminkan sikap kerja yang dimiliki seseorang ketika bekerja.
Sikap kerja yang berupa afektif berasal dari cerminan diri sendiri untuk menanggapi hal yang dialaminya, apabila seseorang merasa terpancing emosionalnya ketika bekerja dia akan merespon pekerjaan tersebut dengan positif atau negatif. Sebagai contoh, seseorang dengan sikap kerja positif tidak akan mempermasalahkan fasilitas tempat kerja ketika orang tersebut sudah nyaman dengan pekerjaan yang ia kerjakan. Sebaliknya, apabila soseorang memiliki sikap kerja negatif tidak akan nyaman walaupun dengan fasilitas tempat kerja yang terjamin.
b.    Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Kerja
Blum and Nylon (2008) menyatakan beberapa faktor yang mempengaruhi sikap kerja antara lain:
1)    Kondisi kerja, meliputi lingkungan fisik maupun sosial berpengaruh terhadap kenyamanan dalam bekerja.
2)    Pengawasan atasan, pengawasan dan perhatian yang baik dari atasan dapat mempengaruhi sikap dan semangat kerja.
3)    Kerja sama dari teman sekerja, adanya kerja sama dari teman sekerja juga berpengaruh dengan kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan.
4)    Kesempatan untuk maju, jaminan terhadap karir dan hari tua dapat dijadikan salah satu motivasi dalam sikap kerja.
5)    Keamanan, rasa aman dan lingkungan yang terjaga akan menjamin dan menambah ketenangan dalam bekerja.
6)    Fasilitas kerja, fasilitas kerja yang memadai berpengaruh terhadap terciptanya sikap kerja yang positif.
7)    Imbalan, rasa senang terhadap imbalan yang diberikan baik berupa gaji pokok maupun tunjangan  mempengaruhi sikap dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Sikap kerja seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor ekstrnal dari orang yang bersangkutan. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi emosional, psikologis terhadap pekerjaan, kedekatan dengan rekan kerja, dan kenyamanan yang tercipta dari diri sendiri. Faktor eksternal merupakan faktor dari luar atau faktor yang berasal dari lingkungan. Faktor eksternal juga sangat berperan dalam pembentukan sikap seseorang. Faktor ini meliputi kondisi pekerjaan, hubungan kerja, rasa aman, lingkungan kerja, dan fasilitas dalam bekerja. Semakin tinggi tingkat kenyamanan seseorang ketika bekerja maka sikap kerja positif yang dihasilkan akan semakin tinggi.
Sebagai contoh orang yang selalu bekerja dengan semangat,  hasil pekerjaan selalu memuasakan, tidak pernah mengeluh dan putus asa ketika mendapatkan kesulitan maka sikap kerja yang terlihat dari orang tersebut merupakan sikap kerja positif. Sebaliknya, apabila orang mendapat pekerjaan mengeluh, tidak bersemangat, sering mengumpat saat bekerja, putus asa saat mendapatkan kesulitan dalam bekerja, selalu ingin segera menyelesaikan pekerjaan tanpa melihat hasilnya maka sikap kerja yang tampak dari orang tersebut merupakan sikap kerja negatif.
Kedua contoh dari sikap kerja orang atau karyawan dapat memperlihatkan indikator dari sikap kerja positif dan sikap kerja negatif. Ciri-ciri dalam sikap kerja tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui sikap kerja seseorang dengan hanya memperhatikan dalam waktu yang singkat, sehingga dapat diketahui sikap kerja yang terbentuk dari orang tersebut.

BIMBINGAN

Bimbingan merupakan program yang disediakan sekolah untuk membantu mengoptimalkan perkembangan peserta didik. Pendidikan dan pengajaran disekolah digunakan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik. Tanpa pendidikan dan pengajaran di sekolah, anak tetap berkembang dan memiliki sejumlah kecakapan pengetahuan nyata, dengan pendidikan dan pengajaran diharapkan perkembangannya dapat lebih tinggi. Dengan pendidikan dan pengajaran kemungkinan tercapainya perkembangan yang optimal masih belum merata dan optimal. Kekurangan tersebut diimbangi dengan adanya bimbingan yang diharapkan dapat mengoptimalkan perkembangan tersebut. Bimbingan dapat mengoptimalkan perkembangan karena :
Pertama, bimbingan menggunakan teknik-teknik bantuan dalam kelompok kecil. Peserta didik dalam kelas terdapat keragaman sifat, kondisi, dan kecakapan. Proses belajar secara klasikal tidak memperhatikan hal-hal tesebut. Kekurangan tersebut dapat diimbangi dengan adanya bimbingan dengan teknik individu dan kelompok kecil.
Kedua, bimbingan berusaha untuk membantu peserta didik dalam mengetahui dirinya, mengenal dan menunjukan arah perkembangan dirinya, menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, dan memahami masalah-masalah yang dihadapi. Bimbingan tidak banyak menekankan dalam pengetahuan dan kecakapan-kecakapan intelektual, tetapi lebih besar faktor-faktor pribadi  serta kecakapan dalam memecahkan masalah sosial-pribadi. Dengan kedua hal tersebut diharapkan peserta didik dapat berkembang dan belajar sendiri.
a.    Pengertian Bimbingan
Bimbingan merupakan terjemahan dari istilah guidance dalam bahasa inggris yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan). W.S. Winkel dalam Ferdy (2009) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “ showing a way” (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).
Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki kepribadian baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangnya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri. (Crow & Crow dalam Mohamad Surya, 1988 : 32)
Jones and Hand 1938 (dalam Nana Syaodih, 2003 : 235) mengemukakan:
Guadiance is … an inseparable aspect of the educational prosses that is peculiarly concerned with helping individuals discover their needs, assess their potentialities, develop their life purposes, formulate plas of action in the service of these purposes, and proceed to their realitation.
Bimbingan adalah satu aspek yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan yang secara khusus membantu individu menemukan yang dibutuhkan, menilai kemampuan yang dimiliki, mengembangkan tujuan hidup, mengarahkan tindakan mencapai tujuan, dan mulai merealisasikannya.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan, bimbingan merupakan usaha sadar individu dalam membantu secara psikologis mengoptimalkan pengembangan diri seseorang secara demokratis dalam menemukan bakat, mengembangkan kemampuan, mencapai tujuan hidup, menanggung beban hidup sendiri, pengambilan keputusan, dan penyelesaian suatu masalah.
Konsep bimbingan yang harus diterapkan adalah intensitas dalam membimbing, karena bimbingan dapat maksimal ketika bimbingan dilaksanakan secara terus menerus. Bimbingan di industri tidak harus selalu dalam bentuk tatap muka, sehingga bimbingan di industri dapat dilaksanakan kapan saja dan dengan model yang bervariasi. Bimbingan terhadap siswa ketika melaksanakan praktek kerja industri harus benar-benar dimaksimalkan, karena pembimbing di industri adalah karyawan yang ditunjuk. Kayawan yang ditunjuk selain membimbing siswa juga harus melaksanakan tanggung jawabnya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal Tersebut diatas menunjukan bahwa ketika melaksanakan praktek kerja industri siswa harus aktif bertanya ataupun meminta petunjuk kepada pembimbing ketika bekerja.
b.    Ciri-ciri Bimbingan
Nana Syaodih (2003 : 235) menyatakan ciri-ciri bimbingan sebagai berikut :
a.    Bimbingan merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan individu secara optimal.
b.    Bantuan diberikan dalam situasi yang bersifat demokratis bukan situasi otoriter.
c.    Bantuan yang diberikan terutama dalam penentuan tujuan-tujuan perkembangan yang ingin dicapai oleh individu serta keputusan tentang mengapa dan bagaimana cara mencapainya.
d.    Bantuan dengan cara meningkatkan kemampuan individu agar dia sendiri dapat menentukan keputusan dan memecahkan masalahnya sendiri.
Kesimpulan dari ciri-ciri bimbingan yang disampaikan Nana Syaodih adalah, bimbingan harus dilakukan secara terus menerus kepada individu. Guna membantu perkembangan diri semaksimal mungkin sesuai dengan bakat minat dan kemampuan dalam diri individu tersebut. Proses dalam bimbingan harus diilakukan secara kekeluargaan atau tanpa paksaan maupun tekanan, sehingga proses bimbingan berlangsung dengan baik. Apabila bimbingan dilaksanakan dengan tekanan dari pembimbing atau yang dibimbing, maka perkembangan diri tidak maksimal dan tidak dapat menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Bimbingan dilakukan untuk membantu individu tentang mengapa dan bagaimana cara menentukan keputusan dan memecahkan masalah.
c.    Tujuan Bimbingan
Beberapa definisi tentang bimbingan dapat diketahui apa yang menjadi tujuan yang terkandung dalam bimbingan. Nana Syaodih (2003 : 237), menyatakan tujuan jangka panjang dari bimbingan sebagai tercapainya perkembangan yang optimal yaitu perkembangan yang setinggi-tingginya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Tujuan yang lebih dekat untuk mencapai tujuan tersebut adalah :
1)    Perkembangan lebih baik tentang dirinya, lingkungannya, serta tentang arah perkembangan dirinya.
2)    Memiliki kemampuan dalam memilih dan menentukan arah perkembangan dirinya.
3)    Mampu menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.
4)    Memiliki produktivitas dan kesejahteraan hidup.
Dilaksanakannya bimbingan memiliki tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang dari bimbingan untuk mencapai perkembangan diri dari potensi yang dimiliki secara maksimal. Berdasarkan tujuan jangka panjang dari bimbingan dapat memperlihatkan proses-proses yang terjadi dalam bimbingan. Sehingga terlihat tujuan jangka pendek dari bimbingan.
Tujuan jangka pendek dari bimbingan  yang ditulis Nana Syaodih dimaksudkan supaya individu bersangkutan dapat dengan mudah beradaptasi atau menyesuaikan diri. Adaptasi yang dimaksudkan adalah dalam perkembangan diri lebih baik, dapat menyesuaikan dan memfilter yang ada di lingkungan sekitar  serta memiliki produktivitas kerja dan kesejahteraan hidup.
d.    Fungsi Bimbingan
Bimbingan berfungsi sebagai pemberian layanan kepada siswa agar masing-masing dapat berkembang menjadi pribadi mandiri dan optimal. Dilihat dari sifatnya, bimbingan dapat berfungsi sebagai pencegahan (preventif), pengembangan, dan perbaikan (kuratif).Dilihat dari hubungan siswa dengan pendidikan sebagai lingkungan, bimbingan memiliki fungsi penyaluran dan penyesuaian. Berikut dijelaskan masing-masing fungsi bimbingan menurut Mohamad Surya (1988 : 38).
1)    Fungsi pencegahan
Bimbingan dapat berfungsi sebagai pencegahan maksudnya, merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi siswa supaya terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya.
2)    Fungsi penyaluran
Bimbingan membantu siswa dalam mendapatkan kesempatan penyaluran pribadinya masing-masing. Melalui fungsi penyaluran, bimbingan dapat mengenali masing-masing siswa secara perseorangan, dan kemudian membantunya dalam penyaluran ke arah kegiatan atas program yang dapat menunjang tercapainya pengembangan yang optimal.
3)    Fungsi penyesuaian
Maksud dari fungsi penyesuaian adalah bimbingan berfungsi membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dengan lingkungannya. Fungsi penyesuaian mempunyai dua arah. Arah pertama, memberi bantuan kepada siswanya supaya dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekolah. Arah kedua,  bantuan dalam mengembangkan program pendidikan yang sesuai dengan keadaan masing-masing siswa.
4)    Fungsi perbaikan
Fungsi perbaikan diperlukan dalam bimbingan untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Bantuan yang diberikan tergantung masalah yang dihadapi siswa baik dalam jenis, sifat, maupun bentuknya. Pendekatan  yang dipakai dalam pemberian bantuan bersifat perorangan maupun kelompok, langsung berhadapan dengan siswa yang bersangkutan, melalui perantara orang lain, ataupun melalui perubahan lingkungan.
5)    Fungsi pengembangan
Fungsi pengembangan dalam bimbingan maksudnya, layanan yang diberikan dapat membantu siswa  dalam mengembangkan  keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap. Dengan demikian diharapkan siswa dapat mencapai pengembangan diri yang optimal.
Di industri bimbingan tidak dapat dilaksanakan secara tatap muka, namun bimbingan tetap berjalan dengan sambil bekerja. Bimbingan yang dilakukan mempunyai beberapa fungsi yang menghasilkan manfaat yang baik untuk perkembangan diri individu.
Fungsi pencegahan dalam bimbingan di industri berfungsi supaya siswa tidak melakukan kesalahan yang mengakibatkan kekacauan produksi. Fungsi penyaluran dan pengembangan dalam bimbingan di industri berfungsi untuk mengoptimalkan minat bakat dan kemampuan siswa dalam bekerja, sehingga terbentuk kepercayaan diri dengan kemampuan yang dimiliki. Fungsi penyesuaian dalam bimbingan di industri berfungsi untuk melatih siswa dalam beradaptasi. Sehingga saat siswa masuk ke dunia kerja nyata mudah dalam menyesuaikan diri terhadap iklim kerja dan lingkungan. Fungsi perbaikan dalam bimbingan di industri berfungsi ketika siswa mendapatkan kesulitan ataupun masalah dalam pekerjaannya. Sehingga kesulitan yang dihadapi dapat terselesaikan dan dapat dijadikan sebagai contoh cara menyelesaikan suatu masalah. Dari beberapa fungsi bimbingan di atas, diharapkan siswa dapat mengembangkan diri secara maksimal setelah melaksanakan praktek kerja industri.
e.    Prinsip Bimbingan
Prinsip-prinsip bimbingan yang perlu diperhatikan antara lain:
1)    Bimbingan harus dapat dilaksanakan secara terus menerus atau berkelanjutan sejalan dengan pelaksanaan pembelajaran maupun pelatihan keahlian kejuruan yang diprogramkan.
2)    Siswa harus diperlakukan tidak hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek.
3)    Pembimbing harus dapat menciptakan iklim yang kondusif untuk pengembangan potensi diri siswa.
4)    Pelaksanaan bimbingan harus memperhatikan metode dan pendekatan yang efektif.
Di dunia industri karena bimbingan tidak dapat berlangsung secara tatap muka, maka dalam proses membimbing harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip dalam bimbingan. Prinsip dalam bimbingan mempunyai beberapa kriteria yang harus diperhatikan dan dipenuhi supaya proses bimbingan tetap berjalan. Apabila salah satu prinsip dalam bimbingan tidak dilaksanakan maka perkembangan diri yang dihasilkan siswa tidak maksimal.
Pengertian bimbingan  dalam teori di atas adalah untuk membantu memaksimalkan perkembangan kemampuan seseorang. Definisi tentang bimbingan  tersebut tersirat dari tujuan yang akan dicapai, batasan-batasan dalam membimbing, dan fungsi dari bimbingan. Bimbingan harus dilakukan secara terus menerus, selain itu bimbingan tidak selalu dilaksanakan secara tatap muka. Kontinuitas dari bimbingan dapat mengoptimalkan perkembangan dalam diri orang yang dibimbing.
Di industri siswa dibimbing tidak hanya untuk memaksimalkan perkembangan skill saja, tetapi juga kemampuan dalam beradaptasi dan kemampuan menjalin hubungan dengan rekan kerja. Bimbingan yang diperoleh siswa ketika melaksanakan prakerin dapat membantu dalam menemukan jati diri serta membentuk mental dan sikap kerja siswa yang bersangkutan. Apabila bimbingan dilaksanakan dengan terus menerus maka perkembangan siswa dapat optimal, sehingga dapat terlihat siswa yang dibimbing dengan baik dan siswa yang tidak maksimal dalam mendapatkan bimbingan.
Sebagai contoh, siswa yang dibimbing selama melaksanakan prakerin  tidak akan bergurau selama bekerja, menggunakan alat sesuai fungsinya, mengetahui resiko kecelakaan dalam pekerjaan sehingga dapat meminimalisir. Kebalikannya, siswa yang tidak mendapatkan bimbingan dengan maksimal akan bekerja dengan seenaknya, bercanda dalam bekerja, ceroboh, dan tidak tanggap terhadap resiko kecelakaan yang dapat menerima. Contoh tesebut dapat menggambarkan bagaimana perbedaan siswa yang dibimbing dengan baik dan tidak dibimbing dengan maksimal. Dapat diketahui bahwa bimbingan sangat diperlukan dalam menemukan dan memaksimalkan perkembangan jati diri dan kemampuan siswa.

Praktek Kerja Industri

Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktek kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK. Praktek kerja industri mulai diberlakukan di Indonesia berdasarkan kurikulum SMK tahun 1994, dipertajam dengan kurikulum SMK edisi 1999 dan dipertegas dengan kurikulum SMK edisi 2004.
Praktek Kerja Industri merupakan suatu tahap persiapan profesional dimana seorang siswa yang hampir menyelesaikan studi  secara formal bekerja dilapangan  dengan supervisi seorang administrator  yang kompeten dalam jangka waktu tertentu, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan melaksanakan tanggung jawab dalam bidangnya (Oemar Hamalik, 2001 : 91).
Dikmenjur (2008 : 1) menyebutkan  praktek kerja industri merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta didik di Dunia Kerja, sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistim Ganda.
Jurnal pokja program prakerin SMK N 1 seyegan (2009 : 3) disebutkan bahwa prakerin merupakan kegiatan eksta kulikuler yang diselenggarakan diluar sekolah, yaitu di dunia usaha atau dunia industri.
Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas mengenai praktek kerja industri adalah, strategi pembelajaran bagi siswa dalam mengenalkan lingkungan kerja lebih dini sesuai bidangnya, serta memberikan pengalaman nyata dalam bekerja sesuai ketrampilan di dunia industri.
Praktek kerja industri merupakan implementasi dari Pendidikan Sistem Ganda. Diadakannya praktek kerja industri berfungsi untuk memperkenalkan dunia indsutri kepada siswa. Pengetahuan tentang dunia industri bertujuan supaya siswa mengetahui kompetensi, disiplin kerja, mental kerja, sikap kerja yang harus dimiliki siswa ketika terjun ke dunia industri yang sesungguhnya. Hal ini sudah dipertegas pada tujuan Pendidikan Sistem Ganda yang terdapat di depan. Selain itu praktek kerja industri bermanfaat supaya kompetensi kurikulum sekolah dapat diaplikasikan secara nyata ketika siswa, sehingga siswa dapat menyadari kompetensi yang diharapkan industri dan memaksimalkan waktu ketika siswa belajar di industri.
b.    Tujuan Praktek Kerja Industri
Pelaksanaan praktek kerja industri selain untuk membentuk keahlian dibidangnya masing-masing juga diharapkan mampu memberikan pengalaman bagi siswa terhadap dunia industri setelah prakerin, sehingga setelah bekerja nanti tidak canggung terhadap lingkungan kerja yang baru. Tujuan prakerin pada dasarnya merupakan pemberian kesempatan pada siswa SMK untuk menghayati situasi sebenarnya supaya dapat meningkatkan, memperluas, dan  memantapkan ketrampilan kejuruan sebagai bekal memasuki lapangan kerja.
Tujuan praktek kerja industri dalam dikmenjur (2008 : 2) disebutkan sebagai berikut :
1)    Pemenuhan Kompetensi sesuai tuntutan Kurikulum
Penguasaan kompetensi dengan pembelajaran di sekolah sangat ditentukan oleh fasilitas pembelajaran yang tersedia. Jika ketersediaan fasilitas terbatas, sekolah perlu merancang pembelajaran kompetensi di luar sekolah (Dunia Kerja mitra). Keterlaksanaan pembelajaran kompetensi tersebut bukan diserahkan sepenuhnya ke Dunia Kerja, tetapi sekolah perlu memberi arahan tentang apa yang seharusnya dibelajarkan kepada peserta didik.
2)    Implementasi Kompetensi ke dalam dunia kerja
Kemampuan-kemampuan yang sudah dimiliki peserta didik, melalui latihan dan praktik di sekolah perlu diimplementasikan secara nyata sehingga tumbuh kesadaran bahwa apa yang sudah dimilikinya berguna bagi dirinya dan orang lain. Dengan begitu peserta didik akan lebih percaya diri karena orang lain dapat memahami apa yang dipahaminya dan pengetahuannya diterima oleh masyarakat.
3)    Penumbuhan etos kerja/Pengalaman kerja.
SMK sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan dapat menghantarkan tamatannya ke dunia kerja perlu memperkenalkan lebih dini lingkungan sosial yang berlaku di Dunia Kerja. Pengalaman berinteraksi dengan lingkungan Dunia Kerja dan terlibat langsung di dalamnya, diharapkan dapat membangun sikap kerja dan kepribadian yang utuh sebagai pekerja.
Dilaksanakannya Praktek Kerja Industri memilki tujuan yang dimaksudkan dapat membantu siswa untuk pengenalan dunia industri lebih awal, maupun membangun kemampuan beradaptasi dan pembentukan sikap kerja siswa sebalum memasuki dunia kerja secara nyata.  Tujuan Praktek Kerja Industri yang dimaksudkan Dikmenjur (2008) adalah untuk membantu siswa dalam memaksimalkan belajar terutama ketrampilan sesuai dengan kompetensi jurusan. Kemampuan siswa yang didapat disekolah dapat dipraktekkan secara nyata ketika siswa tersebut melaksanakan Praktek Kerja Industri, sehingga siswa dapat mengerti kompetensi yang diajarkan sekolah dan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Pembelajaran di sekolah sangat terbatas pada waktu dan fasilitas yang tersedia. Di industri fasilitas yang disediakan selalu mengikuti perkembangan teknologi secara cepat, karena di industri pekerjaan yang dilaksanakan berkaitan langsung dengan proses produksi barang maupun jasa. Implementasi kemampuan siswa di industri dapat menambah kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan pekerjaan.
Diadakanya  Praktek Kerja Industri dimaksudkan supaya siswa mendapat pengalaman kerja nyata di industri. Adanya pengalaman nyata tersebut, siswa dapat dengan mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja baru. Berusaha meningkatkan kemampuan kerja, selalu membangun sikap kerja dan kepribadian secara utuh sebagai pekerja.
c.    Pelaksanaan Praktek Kerja Industri
Pengaturan pelaksanaan Praktek Kerja Industri dilakukan dengan mempertimbangkan dunia kerja atau industri untuk dapat menerima siswa serta jadwal praktek sesuai dengan kondisi setempat. Praktek Kerja Industri memerlukan perencanaan secara tepat oleh pihak sekolah dan pihak industri, agar dapat terselenggara dengan efektif dan efisien. Program Prakerin yang dilaksanakan di industri/perusahaan, menurut Dikmenjur (2008)  adalah meliputi :
1)    Praktik dasar kejuruan, dapat dilaksanakan sebagian di sekolah, dan sebagian lainnya di industri, apabila industri memiliki fasilitas pelatihan di industrinya. Apabila industri tidak memiliki fasilitas pelatihan, maka kegiatan praktik dasar kejuruan sepenuhnya dilakukan di sekolah.
2)    Praktik keahlian produktif, dilaksanakan di industri dalam bentuk “on job training”, berbentuk kegiatan mengerjakan pekerjaan produksi atau jasa (pekerjaan sesungguhnya) di industri/perusahaan sesuai program keahliannya.
3)    Pengaturan program 1), dan 2) harus disepakati pada awal program oleh kedua pihak.
Kesimpulan dari pernyataan Dikmenjur (2008) mengenai pelaksanaan Praktek Kerja Industri adalah Praktek Kerja Industri dapat dilaksanakan sebagian di sekolah dan sebagian di industri, dan juga harus memperhatikan ketersediaan dan kelengkapan fasilitas praktek yang digunakan siswa. Kegiatan kerja di industri dengan cara mengerjakan pekerjaan nyata atau job yang tersedia di industri tersebut. Siswa yang didampingi dan dibimbing pegawai yang di ikutinya membuat siswa mengerti alur proses produksi yang dilaksanakan industri, sehingga siswa mendapat pengetahuan juga mendapat pengalaman nyata ketika melaksanakan Praktek Kerja Industri.
Dalam pokja prakerin SMK N 1 Seyegan (2009 : 4) pelaksanaan praktek kerja industri dilaksanakan dalam waktu dua bulan. Direncanakan dalam satu minggu siswa melaksanakan kegiatan praktek kerja industri selama enam hari, sehingga dalam kurun waktu dua bulan siswa praktek minimal lima puluh dua hari. Dengan delapan jam per hari,  sehingga waktu pelaksanaan Praktek Kerja Industri minimal empat ratus enam belas jam. Bulan Januari sampai Ferbruari untuk kompetensi keahlian Teknik Autotronik, bulan Juni sampai Juli untuk kompetensi keahlian Teknik Gambar bangunan, Teknik konstruksi Baja dan Beton, Teknik Kendaraan Ringan, dan Teknik Fabrikasi Logam.
d.    Manfaat Praktek Kerja Industri
Menurut Anwar(2006) dilaksanakannya program Praktek Kerja Industri di SMK tidak hanya bermanfaat bagi siswa yang bersangkutan, tetapi juga bermanfaat bagi sekolah dan industri tempat Praktek Kerja Industri. Hasil belajar siswa selama Praktek Kerja Industri menjadi lebih berarti karena siswa melakukan secara langsung. Lulusan SMK ketika masuk dunia kerja menjadi percaya diri karena sudah mengetahui lebih dahulu kondisi industri secara nyata.
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan juga dapat mensinkronkan kurikulum yang diterapkan sekolah dengan kompetensi yang dibutuhkan industri. Praktek Kerja Industri juga bermanfaat untuk mempromosikan lulusan sekolah kepada inudstri. Dunia industri tempat praktek siswa juga terbantu dengan dapat mengetahui kualitas kemampuan siswa lebih awal. Pihak industri dapat memberi saran ke pihak sekolah tentang kemampuan siswa yang harus dimiliki siswa, selain itu juga dapat mempermudah dalam rekruitmen tenaga kerja baru.


Pustaka:
Anonim. 2009. Materi Pembekalan Siswa Peserta Praktek Industri Periode Juni – Juli 2010. Seyegan : Pokja Praktek Industri SMK N 1 Seyegan.
Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup Konsep dan Aplikasi. Bandung : Alfabeta.
Dikmenjur. 2008. Pelaksanaan Prakerin. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Depdiknas.
Oemar Hamalik. 2001. Pengembangan Sumber Daya Manusia Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan Pendekatan Terpadu. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

PENDIDIKAN SISTEM GANDA

Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu relevansi dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya. Beberapa prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan dinamika tersebut.
Program pendidikan PSG direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah kejuruan dengan institusi pasangannya. Sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait. Untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif.
a.    Pengertian Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Pendidikan Sistem Ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional, yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program pengusahaan keahlian yang di peroleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang diadopsi dari istilah Jerman dual system. Secara teoritis, PSG ini merupakan suatu proses pendidikan keahlian profesi yang memadukan secara sistematik program pendidikan pada sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung pada dunia kerja. Secara terapan, tujuan PSG adalah untuk mencapai tingkat keahlian profesional tertentu.
Sugihartono (2009) mengungkapkan Pendidikan Sistem Ganda pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.
Sistem ganda (dual system) merupakan model penyelenggaraan pendidikan kejuruan dimana perencanaan dan pelaksanaan pendidikan diwujudkan dalam bentuk kemitraan dunia kerja dengan sekolah, sehingga penyelenggaraan pendidikan berlangsung sebagian di sekolah dan sebagian lagi di dunia usaha atau dunia industri. (Pakpaham dalam Anwar, 2006 : 48)
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian yang dilaksanakan dalam Sekolah Menengah Kejuruan dengan cara menerapkan keahlian kejuruan/keahliannya secara langsung di dunia usaha/dunia industri dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai tingkat keahlian tertentu.
Inti dari Pendidikan Sistem Ganda adalah mensinkronkan kurikulum yang terdapat disekolah dan kompetensi yang diharapkan oleh industri. Sinkronisasi kurikulum dapat tercapai apabila kerjasama antara pihak industri dengan pihak sekolah dapat terjalin dengan baik. Konsep pendidikan ini bertujuan supaya siswa ketika disekolah sudah terbiasa dengan lingkungan yang terdapat di industri, sehingga ketika siswa melaksanakan praktek kerja industri siswa tidak kaget dengan situasi yang ada di industri. Diadakannya pendidikan sisitem ganda ini juga bertujuan untuk membentuk disiplin, mental kerja dan sikap kerja siswa yang positif, terbentuknya sikap kerja positif siswa bermanfaat ketika siswa sudah terjun ke dunia industri sepenuhnya. Terjalinnya kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak industri dapat memberi tempat bagi siswa lulusan dan industri pasangan tidak khawatir dengan kompetensi yang dimiliki siswa.
b.    Tujuan Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Pada dasarnya tujuan pokok pelaksanaan pendidikan sistem ganda adalah meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Seorang lulusan SMK yang berkualitas, lebih mengacu  dimilikinya kemampuan atau ketrampilan kerja oleh para lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/dunia industri.  Menurut Anwar (2006 : 29) tujuan penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda adalah :
1.    Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional ( dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja ).
2.    Memperkokoh ” link and macth ” antara sekolah dengan dunia kerja.
3.    Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.
4.    Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
Dari tujuan Pendidikan Sistem Ganda yang diampaikan Anwar dapat disimpulkan bahwa dengan dilaksanakannya Pendidikan Sistem Ganda, sekolah dapat mencetak lulusan yang kompeten dan memiliki pengalaman kerja pada bidangnya. Pihak industri juga tidak kesulitan dalam mencari tenaga kerja yang sesuai dengan kompetensi di industri, karena lulusan sudah dibekali pada saat siswa melakukan Praktek Kerja Industri. Dilaksanakannya Pendidikan Sistem Ganda membuat sekolah dengan industri menjadi lebih dekat sehingga terjalin kerjasama dalam mensinkronkan kurikulum sekolah dengan kompetensi yang dibutuhkan industri.
c.    Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Penyelenggaraan model Pendidikan Sistem Ganda menurut Muhamad Ali Saifudin (2009) terdapat tiga model antara lain:
1.    Model day release 5-1
Siswa belajar di industri selama lima hari penuh sesuai jam kerja industri. Satu hari belajar disekolah untuk mempelajari materi sesuai kurikulum yang tidak terdapat di industri, serta mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan di industri.
2.    Model day release 4-2
Siswa belajar di industri selama empat hari penuh sesuai jam kerja. Dua hari di sekolah belajar materi sesuai kurikulum yang tidak terdapat di industri dan mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan selama di industri.
3.    Model block release
Model ini menerapkan siswa belajar di industri selama enam hari penuh sesuai jam kerja yang diterapkan industri dan dilaksanakan selama delapan bulan. Kemungkinan terjadi adalah tidak terprogramnya materi yang didapat di industri sehingga pencapaian target kurikulum rendah dan evaluasi secara tatap muka sulit dilaksanakan sekolah.
Di Yogyakarta khususnya SMK Negeri 1 Seyegan pelaksanaan program Pendidikan Sistem Ganda meggunakan model block release, dengan model block release siswa dapat berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan yang terdapat di industri yang ditempati. Model block release tidak dapat menjamin keberhasilan kurikulum yang diterapkan sekolah dikarenakan minimnya pantauan dari pihak sekolah, namun pengalaman nyata yang didapat siswa lebih banyak.
Model day release dapat diterapkan dalam program Pendidikan Sistem Ganda tetapi memerlukan waktu khusus dan guru yang memadai ketika melaksanakan pembelajaran di sekolah. Perbedaan jenis pekerjaan yang dilaksanakan siswa yang harus diperhatikan oleh guru, sedangkan jumlah guru yang terdapat disekolah sengat terbatas.



Daftar Pustaka :
Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup Konsep dan Aplikasi. Bandung : Alfabeta.
Muhamad Ali Saifudin. 2009. Pendidikan Sistem Ganda. http://muhamadalisaifudin.blogspot.com. Diakses pada 06 Januari 2011 pukul 20:48 WIB.
Sugihartono. 2009. Pendidikan Sistem Ganda. http://wordpress.com/dudik.com/. Diakses pada tanggal 16 November 2010 pukul 18:48 WIB.

Kamis, 14 Oktober 2010

untuk di baca dan diresapi

1. Jadilah jagung,

jangan jambu monyet. Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.

Artinya : Jangan suka pamer

2. Jadilah pohon pisang.

Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.

Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

3. Jadilah duren , jangan kedondong.

Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. Hmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.

Artinya : Don't Judge a Book by The Cover.. jangan menilai orang dari luarnya saja.

4. Jadilah bengkoang.

Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih.

Artinya : Jagalah hati jangan kau nodai.

5. Jadilah tandan pete (petai), bukan tandan rambutan.

Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang gede.

Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

6. Jadilah cabe

Makin tua makin pedas.

Artinya : Makin tua makin bijaksana.

7. Jadilah buah manggis

Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.

Artinya : Jangan Munafik

8. Jadilah buah nangka

Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.

Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baik).